Akibat Penutupan Jalan Area Stasiun Cakung Pedagang Pasar Bintara Merugi

Kotabekasinews.com — Jakarta — Sebanyak 400 kios pedagang pasar Bintara nyaris gulung tikar akibat omzet yang terus menurun sekitar 75 persen dari hari- hari biasanya. Hal ini disebabkan karena jalan yang melewati rel kereta api stasiun Cakung ditutup sejak bulan Mei tepat sebelum Idul Fitri. Penutupan akses jalan ini tentu sangat merugikan para pedagang, karena pembeli pada umumnya tinggal di seberang rel kereta. Warga Pulo Gebang yang setiap hari berbelanja di pasar bintara kini harus melewati jembatan tinggi yang dibuat untuk penumpang kereta. Jika menggunakan motor atau mobil harus menempuh arah sekitar 3 km melewati rawa bebek tentu sangat tidak efektif , jika pembeli melewati jembatan penumpang kereta api juga agak sulit karena jembatan tinggi apalagi yang sudah berumur. Begitupun warga yang ingin ke mesjid di seberang atau yang mengantar anak sekolah.

Totok Karsita Ketua Koordinator Warga Pedagang Pasar Bintara

Totok Karsita selaku Ketua koordinator warga pasar Bintara menyampaikan rasa keprihatinannya atas penutupan jalan yang melintasi rel kereta api Cakung. “Kami sangat berharap agar jalan yang melintasi rel kereta api Cakung segera dibuka kembali sebelum dibangun flyover/underpass agar pembeli dari Pulo Gebang dapat berbelanja di pasar Bintara, kami para pedagang mendukung apapun program pemerintah termasuk rencana pembangunan fly over namun saat belum dibangun dan belum dapat digunakan mohon agar jalan pintas melalui rel di buka dulu terutama untuk roda dua, kalau dibuka untuk roda empat lebih bagus lagi agar roda perekonomian warga dapat berjalan kembali. Kalaupun ditutup kami diberi alternatif agar warga seberang Pulo Gebang dapat berbelanja kembali di pasar Bintara,” ungkapnya saat ditemui reporter di pasar Bintara, Sabtu, (12/10/2019).

“Kami harapkan agar pemerintah memperhatikan nasib kami para pedagang pasar Bintara, kami adalah korban kebijakan pemerintah karena penutupan jalan dilakukan sepihak tanpa berembug dulu dengan warga, sebelum dilakukan penutupan jalan hanya dipasang spanduk tanpa sosialisasi pada warga dan pedagang atau pihak-pihak terkait seperti kepala pasar, kelurahan, kecamatan ataupun kepala stasiun Cakung,” imbuh Totok.

Para pedagang pasar Bintara pernah menemui kepala stasiun Cakung, Alfendo. Namun beliau juga tidak tahu mengapa ada penutupan tiba-tiba, hal ini menandakan tidak ada koordinasi dengan kepala stasiun saat penutupan. Yang menutup jalan adalah pihak Direktorat keselamatan perkeretaapian pusat. Alfendo selaku kepala stasiun Cakung mengatakan, tidak ada kewenangan pihak stasiun Cakung untuk membuka atau menutup akses jalan saat ditemui oleh pedagang pasar beberapa bulan lalu.

“Kami telah melayangkan surat ke instansi yang bersangkutan, dinas pasar, dirjen keselamatan perkeretaapian dan kami juga didampingi oleh dua pengacara dari LAKI P 45 , Saiful Iskandar, SH dan Zaenal Arifin,SH. Kami telah menempuh berbagai tahapan untuk meminta agar akses jalan segera dibuka atau diberi solusi agar pembeli di seberang rel dapat berbelanja lagi. Namun hingga kini belum digubris oleh pemerintah atau aparat terkait,” tegas Totok yang mempunyai kios penjualan pisang di pasar Bintara yang kini sepi pembeli. Pisang yang berasal dari Lampung biasanya hampir setiap hari ada pengiriman kini hanya dua kali seminggu karena penjualan lesu.

Kondisi Pasar Bintara yang lenggang

Saat reporter mengunjungi pasar Bintara suasana lenggang sepi pembeli, banyak pula kios kosong yang telah ditinggalkan para penyewa. Reporter juga mewawancarai beberapa pedagang diantaranya Syafrizal 60 tahun yang mulai berjualan di pasar Bintara tahun 1988. Menurutnya omzetnya berkurang hingga 80% sejak adanya penutupan jalan (10/05/2019). Hal senada juga dikeluhkan oleh Irma 48 tahun, pedagang sembako yang berjualan sejak tahun 1998, biasanya omzetnya mencapai 5 juta kini menurun hingga 1 juta dan mulai meminjam pada rentenir karena modal mulai terpakai untuk konsumsi rumah tangga. Perputaran kurang sehingga sekitar 40 % kios terpaksa tutup. Begitupun dengan Firmansyah 43 tahun, seorang pedagang ikan basah yang mulai berdagang tahun 2003, mengeluhkan dagangannya yang kurang laku akibat sepi pembeli, pembeli yang ingin berbelanja di pasar Bintara harus putar arah sekitar 3km dari rawa bebek atau pondok kopi.

Sejumlah pedagang pasar Bintara yang sedang diinterview oleh Reporter

“Selain masalah turunnya omzet para pedagang, hubungan sosial kini juga agak renggang antara dua wilayah yang terputus aksesnya,” ujar William Umar 52 tahun warga Pulo Gebang yang telah menetap selama 27 tahun.

” Segala upaya telah kami tempuh, namun hingga kini tak ada respon dari pihak terkait/ pemerintah. Tak ada solusi juga yang ditawarkan oleh pemerintah, sementara wacana pembangunan fly over tak kunjung dibangun, bagaimana nasib kami, apakah kami dibiarkan mati perlahan? Kemana lagi kami mengadu? Kalau tak digubris juga kami rukun warga pasar Bintara bersama warga sekitar Bintara dan Pulo Gebang akan mendobrak paksa pintu penutup jalan yang membuat kami menderita,” pungkas Totok Karsita dengan tatapan sendu.
(ayu)

Related posts

Leave a Comment