GPP Gelar Dialog Kebangsaan Dalam Rangka Memperingati Lahirnya Pancasila

Kotabekasinews.com — Jakarta — Gerakan Pembumian Pancasila (GPP) menggelar dialog kebangsaan dengan tema “Bumikan Kembali Pancasila sebagai Ideologi Bangsa” dalam rangka memperingati 74 tahun hari lahir Pancasila pada Sabtu, 1 Juni 2019, di Tugu Proklamasi Jakarta Pusat.

Acara ini dihadiri oleh Budayawan sekaligus Dosen Pasca Sarjana Unisia Jakarta Dr. Ngatawi Al-Zastrow, SAg., Msi., Ketua Umum (GPP) sekaligus Dosen Psikologi dan Pasca Sarjana UMB Dr. Antonius D. R. Manurung, M.Si dan Sekretaris Dewan Pakar PA GMNI dr. Andy Talman Nitidisastro.

Dr. Antonius D. R. Manurung, M.Si selaku ketua umum GPP mengatakan bahwa tujuan dan maksud organisasi ini ialah ; merevitalisasi secara obyektif dan berintegrasi kedudukan Pancasila sebagai ideologi nasional sesuai isi pidato Bung Karno 01 Juni 1945. Kedua, melakukan reaktualisasi pemahaman secara komprehensif dan holistik setiap warga bangsa tentang nilai-nilai Pancasila sebagai pedoman hidup dan kepribadian bangsa melalui metode sosialisasi dan diskusi, melalui suatu kerja sama baik secara personal maupun kelompok atau institusional.

Ketiga, mendorong semua pihak baik swasta maupun pemerintah untuk melakukan akselerasi menuju tercapainya masyarakat gotong royong sebagai model permanen tatanan sosial Indonesia menuju bangsa yang berkeadila, berkemanusiaan dan berketuhanan melalui berbagai pendekatan dan program kerja.

“Pancasila seyogyanya harus dikembangkan sebagai ideologi terapan karena pada hakikatnya Pancasila merupakan ideologi terbuka yang harus senantiasa namun pelaksanaannya harus disesuaikan dengan kebutuhan dan tantangan nyata yang selalu akan kita hadapi dalam setiap kurun waktu.” ujar Antonius.

Selanjutnya, Dr. Ngatawi Al-Zastrow, SAg., Msi mengatakan bahwa negara kita dihadapkan pada persoalan besar radikalisme, neo kolonialisme yang merupakan penjajahan bentuk baru. Menurutnya musuh Pancasila adalah orang Indonesia yang terlibat dalam politik transnasional membawa simbol agama.

“Tantangan lain dan bahkan menjadi ancaman serius ialah radikalisme. Akhir-akhir ini radikalisme memperoleh momentum politiknya, menggelar, membahana, dan seolah menjadi Tuan di rumah sendiri. Oleh karena itu kami mengusulkan bagaimana negara bisa menciptakan regulasi dengan tegas terutama mekanisme memberikan tindakan tegas yang melanggar hukum.” ujar Dr. Ngatawi Al-Zastrow. (mcl)

Related posts

Leave a Comment