Karya Sastra HAMKA Adalah Karya Yang Fenomenal Dalam Memperluas Khazanah Peradaban Islam

Kotabekasinews.com — Jakarta — Pusat Kajian Peradaban Melayu (PKPM) mengadakan Diskusi Publik Di Aula HB.Yassin Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Rabu, (22/05/2019). Mengangkat tema ‘Mengkaji Karya Sastra HAMKA Sebagai Khazanah Peradaban Islam’. Hadir sebagai pembicara Dr.Mas’ud M.Nur Ketua Pusat Kajian Peradaban Melayu yang juga Dosen Filsafat di UHAMKA, Dr.Hj. Nelly Nailatie Maarif, M.BA Budayawan dan Pendidik, Desyanto dari Badan Pembina Harian UHAMKA.

Menurut Dr.Mas’ud M.Nur, karya sastra HAMKA belum ada yang menyamai dari segi kualitas maupun kuantitas hingga saat ini. Meskipun HAMKA tidak mengenyam pendidikan formal namun semangat belajar dan menulisnya sangat luar biasa. HAMKA menyerap ilmu dan belajar sendiri dari berbagai pengalaman dan petualangannya. Beliau pergi merantau ke berbagai kota di Indonesia dan mulai menghasilkan karya di usia 17 tahun. “Semangat belajar, membaca dan menulis inilah yang patut di contoh oleh generasi muda kita saat ini. Karena dengan adanya berbagai media sosial saat ini, generasi muda mulai enggan untuk membaca buku apalagi menulis,” ujar Dr.Mas’ud.

“Budaya Melayu yang penuh etika dan sopan santun harus terus dipertahankan. Pengaruh media sosial sangat mempengaruhi tutur bahasa kita saat ini , nyaris tak ada lagi sopan santun dalam menggunakan kata-kata di medsos,” imbuhnya.

Dr.Hj.Nelly Nailatie Maarif.M.BA memaparkan tentang HAMKA dan karyanya yang fantastis. Prof.Dr.Haji Abdul Malik Karim Amrullah, lahir di Sungai Batang Tanjung Raya Agam 17 Pebruari 1908 dan meninggal 24 Juli 1981 di Jakarta dalam usia 74 tahun. HAMKA telah menghasilkan 79 judul buku semasa hidupnya. Dari buku roman, fisafat, agama dan tafsir. HAMKA adalah tokoh yang membuat sejarah melalui karya-karyanya yang spektakuler. Banyak pesan cinta dan moral yang disampaikan melalui karya tulisnya.

“Saya sebagai pendidik sangat prihatin dengan kondisi pendidikan saat ini. SMA, S1 maupun S2 saat ini kondisinya sama, malas membaca dan malas menulis. Kami mengharapkan adanya perbaikan pendidikan. Metode pendidikan saat ini tidak menghasilkan lulusan yang profesional karena materi yang diberikan terlalu general. Kami sebagai pendidik mengharapkan kementerian pendidikan segera turun tangan membenahi sillabus/ metode belajar, agar generasi muda kita tidak ketinggalan jauh dengan negara-negara maju,” ungkapnya.

Desyanto juga mengungkapkan kekagumannya pada HAMKA, seorang penulis otodidak yang menghasilkan karya luar biasa yang terus dikaji karyanya baik di dalam maupun luar negeri. Karya pertamanya saat usia 17 tahun , sebuah buku roman berjudul ‘Si Sabariah’, isinya menggambarkan problematika sosial kemasyarakatan berdasarkan pengalaman pribadi yang dia saksikan di tengah- tengah realita masyarakat. Seorang suami yang sangat mencintai istrinya kemudian tega membunuhnya karena rasa sakit hati terhadap mertuanya yang ingin memisahkan dia dan istrinya karena dianggap tak mampu menafkahi keluarga dengan layak. Dominasi mertua dalam keluarganya akhirnya menimbulkan bencana. Setelah membunuh istrinya ‘Si Sabariah’ sang suamipun melakukan bunuh diri. Karya sastra ini dicetak sebanyak empat kali.

Setelah acara diskusi publik dilalui, kemudian buka bersama, sholat maghrib lalu dilanjutkan dengan konferensi pers. Kegiatan diskusi ini rutin dilakukan oleh Pusat Kajian Peradaban Melayu (PKPM) bersama Melayu Today.com. (fri)

Related posts

Leave a Comment